APPOINTMENT WITH DEATH 01

image

Judul: APPOINTMENT WITH DEATH
Cast  : Kwon Yuri,Jessica Jung,Im Yoona,Kim Taeyeon,Hwang Tiffany,Ok Taecyon
main Cast : Banyak
Genre:Mistery
Rating  :PG 17+

“KAU mengerti, kan, bahwa dia mesti dibunuh?”
Pertanyaan itu terdengar jelas dalam keheningan dan semilirnya angin malam dekat pantai Icheon.Yoona mendadak berhenti.Tangannya masih memegangi daun jendela yang hendak ditutupnya.Dengan dahi berkerut, ditariknya jendela itu dan ditutupnya rapat-rapat. Angin malam jelek buat kesehatan! Sejak kecil Yoona sudah dibiasakan untuk mengakui kenyataan itu.Sambil merapatkan tirai jendelanya dan kemudian berjalan ke ranjangnya,Yoona tersenyum sendiri.

“Kau mengerti,kan,bahwa dia mesti dibunuh?”

Bagi detektif seperti Yoona,kalimat macam begitu yang didengarnya tanpa sengaja pada malam pertama liburannya, sungguh-sungguh membuatnya penasaran.
“Di mana-mana, ada-ada saja yang mengingatkanku pada kejahatan,”gumamnya.Ia tersenyum mengingat cerita yang pernah didengarnya mengenai diri Trollope, seorang novelis kenamaan.Trollope sedang berlayar menyeberangi Samudra Atlantik, dan dalam pelayarannya itu tanpa sengaja terdengar olehnya dua laki-laki membicarakan beberapa novel terbarunya. “Bagus sekali,” ujar yang satu. “Tapi seha-rusnya tokoh perempuan yang menjengkelkan itu dimatikan saja.” Sambil tersenyum lebar, si novelis berkata kepada mereka, “Terima kasih! Akan saya bunuh dia sekarang juga.”

Yoona bertanya-tanya,apa kira-kira yang menjadi latar belakang kalimat yang barusan didengarnya dari kamar sebelah. Apakah pembicaranya sedang memperbincangkan sandiwara yang baru ditontonnya, ataukah mungkin sedang memperdebatkan sebuah buku? “Ada baiknya kata-kata tadi diingat,” pikir Yoona sambil tersenyum. “Siapa tahu suatu hari kelak perlu diartikan lebih serius?” Mengingat kembali suara orang yang mengucapkannya,Yoona merasakan kembali kegelisahan dan getaran perasaan mendalam pada suara itu – suara seorang lelaki, atau seorang pemuda, barangkali.

Masih memikirkan hal itu,Yoona memadamkan lampu kamarnya. “Suara itu pasti akan kudengar lagi…”

————

Dengan siku bertumpu pada bingkai jendela dan kepala berdekatan,Kim Yuri dan Kim Boa memandang kekelaman langit malam.Dengan gemetar,sekali lagi Yuri berkata, “Kau mengertikan, bahwa dia mesti dibunuh?”

Boa beringsut. Ia berkata dengan suara dalam yang parau,

“Mengerikan….”
“Ya, tapi lebih baik daripada begini!”
“Memang….” Ujar Yuri kasar, “Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut-tidak!… Kita harus berbuat sesuatu…. Dan tak ada pilihan lain kecuali….”
Boa menyahut – tapi, seperti perasaannya, suaranya pun terdengar ragu, “Seandainya kita bisa lari saja….”
“Itu tak mungkin,” suara Yuri kosong tanpa harap. “Kau tahu itu tak mungkin,Boa.”
Si Yeoja bergidik. “Aku tahu,Yul Aku tahu.”

Tiba-tiba Yuri tertawa.Tawanya pendek dan pahit.
“Kalau orang tahu apa yang kita pikirkan ini, mereka pasti bilang kita ini gila.Lari saja tidak bisa….” Perlahan Boa menimpali,
“Mungkin – kita memang gila.”
“Ya. Tak lama lagi – malah mungkin sekarang pun orang sudah bilang kita gila! Bayangkan, merencanakan hendak membunuh Eomma kita sendiri!” Boa membantah tajam,
“Dia bukan Eomma kita!”
“Benar.”Setelah diam beberapa saat,Yuri bicara lagi.Suaranya tenang dan apa adanya.
“Jadi, kau benar-benar setuju,Boa?” Jawaban Yuri tegas. “Dia memang seharusnya mati.”Tiba-tiba terlontar dari mulutnya, “Dia gila – aku yakin dia gila! Kalau waras, dia tak mungkin menyiksa kita seperti ini. Sudah bertahun-tahun kita bilang, ‘Ini tidak bisa dibiarkan terus berlarut-larut!’ Tapi cuma itu! Kita bilang, ‘Suatu hari nanti dia pasti mati!’ – tapi nyatanya sampai sekarang dia tidak mati juga! Rasanya dia tidak akan mati kalau tidak ……

“Kalau tidak kita bunuh,”sambung Yuri. “Ya.”

Boa meremaskan jemari tangannya pada bingkai jendela.Oppanya melanjutkan dengan suara berapi-api, “Kau mengertikan, mengapa mesti salah satu di antara kita yang melakukannya?Taeyeon sudah pasti tidak mungkin – ada Tiffany.Dan Seohyun dia juga tak mungkin kita ikut sertakan.”bergidik. “Malang sekali nasib Seohyun! Aku sungguh-sungguh takut ……” “Aku tahu. Keadaannya makin menguatirkan. Itulah sebabnya kita harus segera bertindak – sebelum Seohyun melewati batasnya.”

Boa menegak.Ia menyibakkan rambutnya yang berwarna kecokelatan dari dahinya. “Yul” ucapnya. “Kita tidak salah, kan?”

“Tidak.Yang akan kita lakukan tidak ada bedanya dengan membunuh anjing gila,atau menyingkirkan sesuatu yang merugikan. Ini satu-satunya jalan.”Yuri bergumam,

“Tapi, tetap saja-kita akan diadili. Maksudku,orang tak mungkin mengerti bagaimana dia sebenarnya. Keterangan kita akan ganjil kedengarannya!”

Yuri berkata,“Tidak akan ada yang tahu. Aku sudah punya rencana yang telah sungguh-sungguh kupertimbangkan. Kita aman.”
Boa berpaling kepada oppanya, “Yul- kau jadi lain.Pasti ada apa-apa! Ada apa, Yul?”
“Mengapa kau sampai punya pikiran begitu?” sahut Yuri sambil membuang muka.
“Sebab, pasti ada sebabnya,Yuri – yeoja yang di kereta api itukah?”
“Bukan.Mengapa yeoja itu mesti mengubahku? Tidak! Oh,Boa, jangan bicara yang bukan-bukan. Ayo kita kembali ke… ke…” “Ke rencanamu? Kau yakin rencanamu itu bagus?” ‘Ya. Kita tinggal menunggu kesempatannya. Kalau segalanya berjalan lancar… kita, kita semua akan bebas.”

“Bebas?”Boa mengeluh pelan.Dipandanginya bintang-bintang di langit. Kemudian tiba-tiba gadis itu menangis tersedu-sedu.

“Boa, ada apa?”
“Malam ini begitu indah,” ucap gadis itu pilu, “Kalau saja kita bisa menjadi bagian keindahan itu! Kalau saja kita bisa seperti yang lain dan tidak begini… aneh, tertutup,dan serba salah!”
“Kita akan bebas kalau dia mati nanti.”
“Kau yakin? Bukannya sudah terlambat?”
“Belum. Belum. Belum.”
“Ah …..”
“Boa  kalau kau tidak setuju…”Boa menepiskan tangan Yuri dari bahunya.
“Aku mendukungmu! Karena aku memikirkan yang lain – khususnya Seohyun. Kita harus menyelamatkan Seohyun!”
Yuri diam. “Jadi, kita teruskan?”
“Ya.”
“Bagus! Rencanaku begini”Yuri berbisik dekat telinga Boa.

———-

Seorang  Namja berkebangsaan Jepang masuk dari lobi.Perawakannya tinggi besar.Sejenak perhatiannya tertuju pada si Yeoja.Kemudian ia bergegas menuju sisi lain meja itu.Ketika pandangan mereka beradu,Jessica tersenyum tipis.Ia ingat,namja ini pernah menolong membawakan kopernya dalam perjalanan dari Amerika.

Dokter Taecyon berucap, “Mau menemaniku minum kopi, Miss…”
“Jung. Namaku Jessica Jung.”
“Namaku – maaf,” Dokter Taecyon mengeluarkan selembar kartu nama. Melihatnya, Jessica terheran-heran. “Dr.Ok Taecyon? Oh! Mimpikah aku? Banyak sekali karya tulis Anda yang pernah kubaca. Tulisan Anda mengenai skizofrenia betul-betul menarik.”
“Oh?” Alis Dokter Taecyon terangkat seolah tak percaya.
Cepat Jessica menjelaskan. “Aku calon dokter.Baru saja lulus sarjana muda.”

“Pantas tahu.” Dokter Taecyon memesan kopi.Mereka memilih bangku di sudut ruangan.Jessica menceritakan pengalamannya di kampus.Tetapi Dokter Taecyon kelihatannya lebih tertarik pada rambut si gadis yang Blonde mengkilap serta bentuk bibirnya yang tipis memesona.Ia merasa senang dipandang dengan penuh hormat dan kekaguman oleh Yeoja itu.
“Lama tinggal di sini?” tanya Dokter Taecyon
“Beberapa hari. Sesudah itu rencananya mau ke Gangnam.”
“Oh, ya? Kebetulan, aku pun punya rencana ke sana kalau perjalanannya tidak terlalu lama.Aku harus kembali ke Tokyo sebelum tanggal empat belas.”
“Kalau tidak salah, perlu waktu dua jam buat pergi ke sana.Dua jam perjalanan ke sana, dua hari di sana, dan dua jam lagi untuk perjalanan kembali ke sini.”
“Kalau begitu, aku harus cepat-cepat menghubungi biro perjalanan, minta keterangan.”

Sekelompok orang masuk dan duduk di kursi di tengah ruangan.Jessica memerhatikan mereka dengan perasaan tertarik.Katanya dengan suara pelan, “Apakah kau bertemu mereka di kereta api semalam? Mereka juga dari Amerika berangkatnya bersama-sama kita.”
Dokter Taecyon mengenakan kaca matanya dan memusatkan perhatiannya ke bagian tengah ruangan.
“Orang Korea?”
Jessica mengangguk. “Ya. Mereka keluarga Korea.Tapi kelihatannya agak ganjil.”
“Ganjil? Apanya yang ganjil?”
“Lihat saja! Apalagi eommanya.”

Dokter Taecyon menurut.Mula-mula tampak olehnya seorang lelaki kurus pendek berumur tiga puluhan.Wajahnya imut dan menyenangkan,tetapi ia tampak lemah dan sikapnya menunjukkan kesedihan.Lalu perhatian Dokter Taecyon beralih kepada sepasang muda-mudi berwajah menarik.Pemuda ini pun,pikir Dokter Taecyon, tidak wajar; ya, ada semacam tekanan jiwa pada dirinya.Si Yeoja jelas adik kandungnya.Wajah keduanya sangat mirip.Yeoja ini kelihatannya sangat sensitif. Ada seorang Yeoja lagi.Ia kelihatannya lebih muda dari yang tadi. Rambutnya agak kemerah-merahan dan wajahnya cantik sekqali.Tangannya sibuk meremas-remas dan mencabik-cabik sapu tangan di pangkuannya.Di sebelahnya duduk seorang wanita muda.Pembawaannya tenang.Rambutnya kehitam-hitaman.Wajahnya agak pucat dan matanya indah,namun mencerminkan ketegasan.Yang menjadi pusat perhatian mereka semua adalah….bahwa ia berada dalam keadaan stress serius.

Ya ampun! – pikir Dokter Taecyon.Bukan main! Perempuan itu tua, gemuk, besar, dan duduknya tidak bergerak sedikit pun – seperti Buddha! Katanya kepada Jessica,
“Enniyo Eomma – orangnya tidak cantik, ya?”
“Bukan cuma itu. Orangnya agak sadis juga kupikir?” sahut Jessica dengan nada bertanya.Sekali lagi Dokter Taecyon memerhatikannya.Kali ini bukan pandangan estetik yang dipakainya, melainkan pandangan ahli seorang dokter profesional. “Dropsy. Cardiac,” ujarnya mengambil istilah kedokteran.

“Betul!” Cepat Jessica  mengalihkan pembicaraan dari sudut kedokteran. “Terpisah dari itu, coba perhatikan-sikap mereka terhadap si ibu… rasanya tidak wajar, kan?”
“Siapa sih mereka itu?”
“Namanya Kim. Keluarga Kim. Seorang ibu, dua anak namja- satu sudah menikah – dua anak yeoja, dan seorang menantu yeoja.
Dokter Taecyon bergumam, “Keluarga Kim sedang pesiar keliling dunia?”
“Ya. Tapi aneh sekali! Mereka tidak pernah mengobrol dengan orang lain sama sekali, dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kalau si ibu menyuruh.” “Kelihatannya si ibu memang sangat matriarkal,” ujar Dokter Taecyon
“Tiran malahan!” komentar Jessica.

Dokter Taecyon mengangkat bahu dan mengatakan bahwa wanita Korea umumnya memang suka mengatur.
“Ya.Tapi yang ini lebih dari itu,”Jessica bersikeras. “Dia – oh, mereka semua dibuatnya seperti kutu yang tidak berdaya. Ini betul-betul keterlaluan!”
“Memang jelek kalau perempuan terlalu berkuasa,” ujar Dokter Taecyon bersungguh-sungguh.Kemudian ia menggeleng-geleng.Diliriknya Jessica.Yeoja itu tengah memerhatikan kelurga Kim- tepatnya, salah seorang di antara mereka.Dokter Taecyon tersenyum,mengerti.
Gumamnya, “Kau pernah berbicara dengan mereka?”
“Ya. Tapi tidak dengan semuanya.Cuma satu di antara mereka.”
“Anak laki-lakinya yang muda?”
“Ya. Di kereta api dari Jeounju ke sini.Dia sedang berdiri sendirian di koridor. Lalu kuajak ngobrol.” Wajah Jessica tidak menujukkan perasaan apa-apa.Tapi itu memang sifatnya.Yeoja itu suka bergaul dan ramah-tamah,walaupun kadang-kadang kurang penyabar.
“ Mengapa tiba-tiba ngobrol dengan dia?” tanya Dokter Taecyon.
Jessica mengangkat bahu.“Apa salahnya? Aku sering mengobrol dengan orang yang kutemui dalam perjalanan. Aku senang mendengarkan pendapat orang, kisah hidupnya.
“Dengan kata lain, mereka itu kaujadikan objek penelitian?”
“Ya, mungkin betul juga begitu.”
“Dalam hal ini, apa kesanmu?”

“Yah,”Jessica ragu. “Agak aneh.Dia mendadak merah padam waktu mula-mula kusapa.”
“Memang reaksinya itu aneh?” tanya Dokter Taecyon.Jessica tertawa. “Maksudmu, dia pikir aku ini yeoja tak tahu malu? Oh, bukan. Aku yakin dia tidak berpikir begitu.Namja toh bisa membedakan mana yang murahan dan mana yang bukan.” Jessica bertanya dengan matanya, dan Dokter Taecyon mengangguk. “Aku mendapat kesan,” lanjutnya dengan dahi berkerut, “dia kaget. Kaget sekali, dan kuatir. Aku heran. Orang Korea biasanya berkepribadian bebas. Maksudku, dibanding anak Amerika yang sama umurnya, anak Korea berusia sepuluh tahunan tahu lebih banyak dan lebih sophisticated.Padahal dia sudah lebih dari dua puluh tahun usianya.”
“Ya, kira-kira dua puluh tiga atau empatan.”
“Sudah setua itu?”.
“Kelihatannya.”
“Mungkin juga. Tapi dia masih seperti anak kecil…”
“Mentalnya mungkin agak terlambat berkembang. Faktor kekanak-kanakannya belum hilang sama sekali.”
“Jadi, aku betul,” ujar Sarah, “Maksudku, ada yang kurang normal pada dirinya?”

Dokter Taecyon mengangkat bahu dan tersenyum manis kepadanya.“Adakah di antara kita yang betul-betul normal, Non? Tapi memang, kelihatannya dia menderita semacam gangguan neurosis.”
“Pasti ada hubungannya dengan eommanya!”
“Kau benci betul pada si eomma?” komentar Dokter Taecyon.
“Memang. Aku tak suka melihat matanya – mata jahat!”
Taecyon berbisik, “Semua eomma jadi begitu kalau anak namjanya tertarik pada yeoja cantik.”.
Jessica kesal.Namja Jepang semua sama saja,pikirnya, tidak ada yang diperhatikan selain seks! Dalam hati ia sadar,ilmu psikologi memang mengajarkan bahwa seks mendasari hampir setiap fenomena.

Ia terjaga dari lamunannya yang jauh melayang.Yuri berjalan ke meja tempat majalah.Ia mengambil sebuah majalah.Waktu namja itu lewat di dekat kursinya,Jessica berpaling.Mulutnya melontarkan pertanyaan, “Sudah jalan-jalan hari ini?” Pertanyaan ini asal saja diucapkannya.Jessica Cuma ingin tahu bagaimana reaksinya.Yuri berhenti sebentar.Wajahnya merah padam kemalu-maluan.Kemudian pandangannya dilayangkan ke pusat perhatian keluarganya. Tersendat-sendat, jawabnya, “Oh – oh, ya, ya. Aku…” Lalu tiba-tiba, seperti kena aliran listrik,ia beranjak kembali ke lingkungan keluarganya – menyodorkan majalah yang baru diambilnya.

Si “makhluk Buddha” meraih majalah itu,tetapi matanya menatap tajam wajah anak namjanya.Ia menggumamkan sesuatu,tapi jelas bukan ucapan terima kasih.Kepalanya cuma sedikit sekali bergerak dari posisinya semula.Dokter Taecyon melihat perempuan itu kini memerhatikan Jessica.Wajahnya kosong,tak menunjukkan perasaan apa pun.

Jessica melirik jam tangannya dan berseru, “Oh, aku sampai lupa waktu.”Yeoja itu bangkit. “Terima kasih banyak, Dokter Taecyon, maaf.. aku harus menulis surat.”
“Sampai ketemu lagi.Kita masih akan ketemu lagi, kan?”
“Tentu saja, kalau kau jadi ke Gangnam,Jadi, kan?”
“Mudah-mudahan.Akan kuusahakan.”

Jessica tersenyum dan berlalu.Ia lewat dekat tempat keluarga Kim duduk.Tak lepas dari perhatian Dokter Taecyon bagaimana cara Mrs.Kim melirik anak namjanya.Yuri membalas pandangan Eommanya. Ketika Jessica lewat,Yuri berpaling – bukan untuk melihat Jessica,melainkan membuang muka.

Gerakannya perlahan dan terpaksa.Jelas pandangan Eommanya yang mendorongnya bersikap begitu.Gerakan ini tidak lolos pula dari penglihatan Jessica.Ia merasa sangat jengkel dibuatnya.Padahal mereka sudah bercakap-cakap begitu akrab di kereta api kemarin malam.Malah sambil tertawa-tawa keduanya saling bertukar mata uang Jepang.Yuri begitu riang dan bersemangat seperti anak kecil waktu itu,walau keriangan dan semangatnya menimbulkan sebersit rasa iba dalan hati Jessica.Sungguh keterlaluan. “Aku tidak akan bicara lagi dengannya,” ujar Jessica pasti.

————–

Jessica tahu dirinya cukup menarik dan terhormat. Mungkin keramahtamahannya kepada namja itu cuma disebabkan rasa kasihan. Perlukah orang sombong tak berperasaan seperti itu dikasihani? Percuma! Jessica tidak jadi menulis surat.Ia duduk di depan kaca riasnya,menyikat rambutnya.Di hadapannya, sepasang mata berwarna kecokelatan memandangnya kembali dari cermin.Mata itu memancarkan kegundahan hati yang empunya.Jessica melamun,memikirkan hidupnya.Sebulan yang lalu pertunangannya putus.Calon suaminya seorang dokter muda,empat tahun seniornya di kampus.

Keduanya sangat tertarik dan tergila-gila satu sama lain.Sayangnya, temperamen mereka terlalu mirip,dan ini sering menimbulkan cekcok bahkan pertengkaran sengit.Seperti kebanyakan yeoja,Jessica mengagumi kekuatan dan kemampuan menguasai pada diri seorang Pria.Ia selalu mengatakan bahwa ia ingin dikuasai pria.Tetapi waktu benar-benar bertemu dengan pria yang menguasainya,Jessica merasa tidak suka diperlakukan demikian! Memutuskan pertunangannya merupakan pilihan yang sangat berat bagi Jessica.

Tetapi ia sadar,daya tarik fisik saja bukanlah dasar yang kuat untuk membina hubungan lebih lanjut.Itulah sebabnya Jessica memutuskan untuk pergi berlibur – menghibur diri dan melupakan segala kesedihannya – sebelum kembali menekuni pekerjaan dan studinya.Pikiran Jessica beralih dari masa lalu ke masa sekarang.

Coba Dokter Taecyon mau diajak mengobrol mengenai pekerjaannya.Begitu banyak keberhasilan yang sudah dicapainya.Sayang dokter itu tidak menganggapnya serius.Mungkin kalau dia jadi pergi ke Gangnam kemudian Jessica teringat lagi pada pemuda Korea yang aneh itu.Jessica yakin kehadiran keluarganyalah yang membuat Yuri bersikap tak acuh seperti tadi.Tapi tetap saja Jessica merasa jengkel.Tak pantas laki-laki terlalu takut dan mau dikuasai begitu oleh keluarganya! Meskipun begitu, dalam hati Jessica terbersit suatu perasaan aneh. Seperti ada kejanggalan dalam kehidupan keluarga Yuri. Tiba-tiba Jessica berkata keras-keras kepada dirinya sendiri, “Dia perlu diselamatkan! Aku harus menyelamatkannya.

————

Dokter Taecyon tidak habis pikir,mengapa namja berfisik sesehat itu dan sedang pesiar buat bersenang-senang pula,sampai mengalami gangguan yang nyaris bisa disebut nervous breakdown begitu.Perhatiannya kini beralih kepada yang lain.Gadis muda berambut warna kastanye itu jelas adik Yuri.Keduanya mempunyai garis-garis keturunan sama: kurus, cantik, dan berwajah ningrat. Tangan mereka langsing dan indah bentuknya. Begitu pula dagu yang ramping dan leher yang jenjang.

Yeoja ini pun tampak nervous: gerakannya sering tidak terkontrol, matanya terlalu bersinar-sinar.Pada waktu berbicara,suaranya terengah-engah dan terlalu cepat.Sikapnya waspada, tidak bisa santai.Dia ketakutan,pikir Dokter Taecyon Ya, dia ketakutan! Terdengar olehnya beberapa potong percakapan mereka.Tidak ada yang aneh – percakapan pelancong pada umumnya.

“Kita harus melihat Gangnam.”
“Apakah tidak terlalu melelahkan buat Eomma?”
“Ke Gangnam pagi-pagi?”
“Kuil itu – yang mereka sebut Masjid Itwon- mengapa disebut begitu, ya?”
“Sebab kuil itu  dijadikan tempat beribadah orang Islam,Taeyeon.”

Percakapan mereka wajar.Walaupun begitu,Dokter Taecyeon merasa ada sesuatu yang tidak wajar. Percakapan mereka seolah cuma kedok – penutup sesuatu, semacam gelora atau pusaran arus yang terlalu jauh di dalam dan tak dapat diungkapkan dengan katakata… Sekali lagi Dokter Taecyon mencuri pandang dari balik Aniyo Eomanya-nya.Taeyeon? Pasti dia anak namja sulung.Padanya kelihatan garis-garis keturunan yang sama,tetapi ada perbedaannya.

Taeyeon tidak gugup.Menurut pengamatan Dokter Taecyon,Taeyeon tidak telalu nervous.Tetapi dia pun tidak wajar.Ada keanehan pada diri pria ini.Dia tidak tegang seperti kedua adiknya.Duduknya santai,lesu.Memutar otaknya,mencoba mengingat-ingat pasien yang duduk dengan sikap begitu di rumah sakit,Dokter Taecyeon berpikir: Dia kehabisan tenaganya,kehabisan tenaga karena terlalu menderita.Pandangannya seperti pandangan seekor anjing yang terluka,atau seperti kuda yang sedang sakit – pandangan kosong makhluk yang menahan derita.

Aneh… secara fisik dia sehat.. Tetapi bisa dipastikan pria ini telah mengalami banyak sekali penderitaan-penderitaan batin.Sekarang dia tidak lagi menderita – dia sudah pasrah – menunggu… Menunggu apa? Oh, apakah aku ini mengada-ada? Ah, tidak.Pria itu memang sedang menunggu sesuatu,menunggu akhir deritanya

Kim Taeyeon berdiri,membungkuk memungut gulungan benang wol yang jatuh dari pangkuan Eommanya. “Ini, Ma.”

“Terima kasih.”

Apa yang sedang dirajut perempuan tak berperasaan itu? Kelihatannya ia sedang membuat sesuatu yang tebal dan kasar.Sarung tangan buat kuli,pikir Taecyon.Dan ia pun tersenyum menanggapi fantasinya sendiri.Kini perhatiannya beralih pada anggota keluarga yang tampaknya paling muda – gadis berambut merah keemasan.Usianya kira-kira tujuh belasan.Kulitnya bersih dan sangat indah dikombinasikan dengan warna rambutnya.Walaupun terlalu kurus, gadis ini cantik sekali. Ia duduk diam,tersenyum sendiri atau, tersenyum pada udara di hadapannya.Senyumnya terasa aneh… begitu jauh dari Hotel Chongnamdong dari Gangnam… Melihatnya, Dokter Taecyon teringat sesuatu.Kini jelas terbayang olehnya apa sesuatu itu.Senyum yeoja tadi mirip dengan sungging bibir dewi-dewi Yunani di Akropolis – senyum yang jauh, namun indah dan tidak manusiawi…

Tiba-tiba, dengan terkejut, Dokter Taecyon memerhatikan tangan gadis itu. Tangannya tersembunyi di bawah meja,namun sangat jelas terlihat dari tempat Dokter Taecyon duduk.Di atas pangkuannya, gadis itu sibuk meremas-remas dan mencabik-cabik sapu tangan yang dipegangnya- Pemandangan ini mengguncangkan perasaan Dokter Taecyon.Senyumnya yang menerawang begitu jauh dan menyendiri, tubuhnya yang tenang,dan tangannya yang sibuk merusak.

TBC

Advertisements

8 thoughts on “APPOINTMENT WITH DEATH 01

  1. yaelah lu thor belum kelar yg loser gnti ff bru wahaha 😀 bagus sih nih ff tpi masih bingung. okelah thanks for update

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s