APPOINTMENT WITH DEATH 02

image

Judul: APPOINTMENT WITH DEATH
Cast  : Kwon Yuri,Jessica Jung,Im Yoona,Kim Taeyeon,Hwang Tiffany,Ok Taecyon
main Cast : Banyak
Genre:Mistery
Rating  :PG 17+

Seorang perempuan muda bangkit. Matanya lebar, tenang, berwarna keabu-abuan. Rambut hitamnya tertata rapi. Mrs.Kim berkata, “Jangan. Biarkan dia naik sendiri ke kamarnya.”
Si gadis berteriak, “Aku ingin ditemani Tiffany.”
“Ayolah kalau begitu,” ujar perempuan muda tadi, mendekatinya.
Mrs.Kim berkata lagi, “Dia lebih suka pergi sendiri – betul, bukan,Hyunnie?” Sejenak, cuma sejenak saja, keheningan menyelimuti sekeliling keluarga itu. Kemudian, dengan suara yang tiba-tiba menjadi datar tanpa nada,Kim Seohyun menyahut, “Ya. Lebih baik aku pergi sendiri. Terima kasih,Tiffany” Ia pun bangkit dan berlalu.

Dokter Taecyon menurunkan letak surat kabarnya hingga ia bisa mengamati Mrs.Kim sepenuhnya. Perempuan itu memandangi kepergian Seohyun dengan wajah berkerut oleh senyum aneh.Samar-samar wajahnya menyerupai karikatur wajah anaknya yang tersenyum seperti dewi Yunani beberapa saat yang lalu…. Kini perempuan itu mengalihkan pandangannya kepada Tiffany.

Tiffany baru saja duduk kembali di kursinya.Diangkatnya kelopak matanya,dan dipandangnya kembali ibu mertuanya.Wajahnya tidak berubah. Pandangan Mrs.Kim penuh kedengkian.Perempuan tua itu betul-betul tiran! pikir Taecyon. Tiba-tiba saja Mrs.Kim memandangnya.Taecyon mendesah.Mata perempuan itu kecil, hitam, dan bernyala-nyala; dari dalamnya seolah tersorot sesuatu, sesuatu yang kuat – semacam gelombang kesadisan. Dokter Taecyon pernah mempelajari kekuatan pribadi semacam itu.

Ia sadar kini bahwa Mrs.Kim bukanlah perempuan tua yang bersikap sebagai tiran sekadar untuk memuaskan gengsinya.Perempuan itu benar-benar mempunyai kekuatan dalam.Dokter Taecyon melihat persamaan sorot matanya dengan sorot mata seekor ular kobra.Mrs.Kim memang tua dan penyakitan. Tetapi itu bukan berarti ia tidak berdaya.Perempuan itu tahu benar apa artinya kekuatan.Bahkan tidak mustahil ia telah mempraktikkan kekuatan dalamnya itu sepanjang hidupnya tanpa pernah meragukan keampuhannya. Pernah Dokter Taecyon menyaksikan kehebatan dan keberanian seorang pelatih harimau.

Binatang-binatang buas berukuran raksasa yang dilatihnya dengan patuh menuju tempatnya masing-masing.Walaupun mereka tampak marah karena gengsi dan derajat mereka direndahkan oleh kepatuhan terhadap pelatih itu,tak urung mereka menurut dan melakukan setiap perintahnya.Mata mereka geram dan menyorotkan kebencian yang amat sangat, tapi toh mereka menurut dengan ketakutan. Pelatih itu seorang perempuan muda. Wajahnya cantik. Namun sorot matanya seperti Mrs.Kim.

“Une domptense!” ujar Dokter Taecyon kepada dirinya sendiri.Ia tahu sekarang, apa yang tersembunyi di balik percakapan wajar yang didengarnya tadi. Kebencian – putaran arus kebencian.Pikirnya,kalau orang tahu apa yang sedang kupikirkan ini, mereka pasti menuduhku gila! Diam-diam memberi label mengerikan kepada keluarga Korea yang dengan rukun pesiar bersama di Seoul! Kemudian Dokter Taecyon memerhatikan perempuan muda berwajah tenang yang disebut Tiffany tadi.Pada jari manisnya terselip cincin kawin.Pada waktu Taecyon memerhatikannya, perempuan itu sejenak melontarkan pandangan kepada Taeyeon.Tahulah Taecyon bahwa mereka suami-istri.Tapi pandangan Tiffany barusan lebih menyerupai pandangan seorang ibu kepada anaknya ketimbang pandangan istri kepada suaminya; pandangan ibu sejati yang ingin melindungi dan merasa kuatir.

Ada satu hal lagi yang diketahui Taecyon.Tiffany satu-satunya orang dalam keluarga itu yang tidak berada di bawah kekuasaan Mrs.Kim. Mungkin Tiffany membenci perempuan tua itu.Tetapi yang jelas, ia tidak punya perasaan takut pada ibu mertuanya. Kekuatan dalam Mrs.Kim sama sekali tidak memengaruhinya.Tiffany tampak muram dan kuatir akan suaminya, tetapi ia sendiri bebas.

“Hmm, menarik sekali semuanya ini,” ujar Dokter Taecyon. Di tengah kekalutan ini,muncullah sesuatu yang bernapaskan kehidupan wajar, namun berpengaruh lucu. Seorang lelaki masuk. Ketika melihat keluarga Kim di situ, ia pun langsung beranjak mendekati mereka. Wajah lelaki ini menyenangkan. Tampaknya lelaki bereyesmile ini pun berkebangsaan Korea. Pakaiannya rapi,wajahnya imut,Suaranya agak pelan dan monoton, namun cukup menyenangkan. “Aku sedang mencari-cari kalian,” ujarnya. Dengan hati-hati dijabatnya tangan mereka masing-masing.
“Apa kabar, Mrs.Kim? Perjalanan ini tidak terlalu melelahkan, bukan?”

Jawaban Mrs.Kim cukup ramah. “Tidak. Kesehatanku memang tidak pernah bagus. Kau tentu tahu….” “Tentu saja; sayang – sayang-sekali!” “Tapi aku tidak sakit,” tambah Mrs.Kim dengan senyum ularnya. “Tiffany pandai sekali merawatku.

“Aku mencoba merawat eomma sebaik mungkin,”Tiffany berkata tanpa ekspresi. “Aku yakin akan hal itu,” sahut lalaki asing tadi dengan sungguh-sungguh. “Bagaimana pendapatmu mengenai kota Kpop ini, Taeyeon?”
“Aku tak tahu,” sahut Taeyeon tanpa semangat.
“Kau kecewa, kan? Terus terang aku pun begitu mula-mula. Kau pasti belum banyak melihat-lihat.”
Boa menimpali, “Eomma tidak boleh kecapekan.”

“Ya. Dua jam sehari – cuma itu kekuatanku berjalan-jalan.”
Dengan ramahnya lelaki asing tadi berkata, “Itu sudah bagus sekali!”
Mrs.Kim tertawa kecil – nadanya sumbang. “Aku tak pernah menuruti keinginan badaniku! Yang penting itu pikiran. Ya, pikiran…”

Taecyon melihat Yuri tersentak. “Kau sudah melihat Masjid Itewon?”
“Oh, justru itu yang pertama-tama kukunjungi. Mudah-mudahan Seoul bisa kuselesaikan dalam dua hari ini. Sesudah itu aku ingin minta jadwal perjalanan baru untuk menjelajahi Korea seluruhnya:Seoul,Gwangju,Jeju,Jeunju dan Laut China selatan. Pasti sangat menarik. Setelah itu aku ingin ke Icheon- ada semacam reruntuhan kuno peninggalan Joseon di situ. ”

Ujar Boa. “ Tentu saja. Menurutku, tak akan rugi kita ke sana.”
Nickhun berhenti bicara.Dipandangnya sejenak Mrs.Kim dengan ragu. Waktu ia berkata-kata lagi, terdengar oleh Taecyon bahwa suara lelaki itu menjadi tidak pasti. “Ada yang mau ikut aku jalan-jalan sekarang? Aku tahu Anda tidak boleh terlalu lelah, Mrs.Kim dan tentunya ada yang ingin menemani Anda di Hotel. Maksudku, kalau kalian mau bergilir, sebagian berjalan-jalan dan sebagian tinggal, aku akan senang mengajak kalian melihat-lihat kota ini.”

Suasana mendadak berubah menjadi begitu hening. Cuma suara jarum rajut Mrs.Kim yang kedengaran oleh Taecyon. Kemudian Mrs.Kim berkata, “Kurasa kami tidak ingin terpencar-pencar. Kami selalu pergi bersama-sama.”Perempuan itu mengangkat wajahnya. “Nah, anak-anak, bagaimana pendapat kalian sendiri?”

Jawab mereka cepat, “Tidak,Eomma” “Oh, tidak.” “Tentu saja tidak.” Sambil tersenyum aneh Mrs.Kim berkata, “Nah, Anda dengar sendiri, mereka tidak mau meninggalkanku. Bagaimana dengan kau,Tiffany? Kudengar kau tidak berkata apa-apa.”
“Tidak, Eomma – kecuali kalau Taeyeon mau pergi.”
Mrs.Kim kini berpaling kepada putra sulungnya.“Nah,Taeyeon apa pendapatmu? Mengapa kau tidak pergi saja bersama Tiffany? Kelihatannya dia ingin pergi.” Taeyeon terkejut. Diangkatnya wajahnya. “Aku… oh, tidak. Kupikir.. lebih baik kita semua tinggal di hotel saja.”

“Kalian memang benar-benar satu keluarga yang rukun!”komentar Nickhun ramah. Namun keramahannya terdengar sumbang.
“Kami selalu kompak dan menyendiri,” ucap Mrs.Kim. Ia mulai menggulung benang wolnya. “Omong-omong, Yuri siapa perempuan muda yang menyapamu barusan?”
Yuri tampak gugup. Mula-mula wajahnya merah padam, tapi sekonyong-konyong berubah pucat. “Aku tidak tahu namanya. Dia menyapaku di kereta api kemarin.”
Perlahan-laban, dan dengan susah payah, Mrs.Kim berusaha berdiri dari kursinya. “Kurasa kita tidak perlu berhubungan dengan dia,” ujarnya.

Tiffany segera berdiri dan menolong perempuan tua itu meninggalkan kursinya. Caranya membantu ibu mertuanya sangat sigap dan cekatan. Ini sangat menarik perhatian Taecyon “Sudah waktunya beristirahat,” ujar Mrs.Kim “Selamat malam,Nickhun.”
“Selamat malan, Mrs.Kim. Selamat malam, Mrs.Taeyeon.” Mereka pergi beriring-iringan. Tampaknya tak seorang pun di antara anak-anak Mrs.Kim punya keinginan untuk tetap di ruang santai tanpa sang ibu.Nickhun berdiri mengawasi kepergian mereka. Ekspresi wajahnya sukar dikaji. Dari pengalaman, Dokter Taecyon tahu bahwa umumnya orang Korea ramah dan suka bergaul. Mereka tidak cepat menaruh curiga pada orang baru yang mereka kenal dalam perjalanan. Buat Taecyon berkenalan dengan Nickhun bukanlah hal sulit. Tambahan pula, lelaki itu tampaknya sedang kesepian dan rindu kawan.

Maka sekali lagi Dokter Taecyon menyodorkan kartu namanya.Membaca nama yang tertera di situ,Nickhun sangat terkesan. “Oh, bukankah baru-baru ini Anda ke Amerika, Dokter Taecyon?”
“Musim gugur yang lalu, ya. Saya memberi kuliah di Harvard.”
“Tentu saja. Anda termasuk dalam daftar dokter paling kenamaan, Dokter Taecyon Saya dengar, di Jepang Anda sangat tersohor.”
“Oh, pujian Anda berlebihan!”
“Sama sekali tidak. Saya sangat beruntung bisa bertemu dengan Anda seperti ini. Omong-omong, rupanya sedang banyak orang beken berada di Korea sekarang ini. Anda sendiri, Choi Sooyoung,Choi Siwon si ahli keuangan termashyur itu, lalu… Cho Kyuhyun – arkeolog Terkenal itu, lalu Lady Han- politisi Negara yang sedang ngetop itu, dan detektif ulung  – Im Yoona.”

“Si Dorky Im Yoona? Dia ada di sini?”
“Ya. Kebetulan saya baca berita kedatangannya di koran kemarin. Mereka semua rupanya tinggal di Hotel Jeunju. Tidak mengherankan, Jeunju Hotel memang hotel paling bagus di sini!”Nickhun tampak senang.
Dokter Taecyonn bisa bersikap sangat menarik dan menyenangkan kalau dia mau. Tak lama kemudian keduanya tampak berjalan menuju bar. Setelah menghabiskan dua gelas es Soju soda,Taecyon berkata, “Saya lihat, Anda tadi mengobrol dengan keluarga Korea. Apakah keluarga Korea rata-rata seperti itu?”
Nickhun meneguk minumannya sambil berpikir. Lalu katanya, “Tidak juga.” “Tidak? Kelihatannya mereka begitu rukun.”
Pelan Nickhun berkata, “Maksud Anda, mereka semua seperti terpatri di sekeliling ibunya? Itu memang benar. Dia betul-betul wanita yang luar biasa.” “Oh, betulkah?” Mengorek informasi dari Nickhun tidaklah sulit.
“Saya pikir, tidak ada salahnya saya ceritakan kepada Anda, Dokter Taecyon. Akhir-akhir ini saya sendiri sering sekali memikirkan mereka. Mungkin dengan menceritakannya kepada Anda, hati saya bisa sedikit lega. Anda tidak keberatan mendengarkannya?”

Dokter Taecyon menggeleng. Nickun perlahan memulai ceritanya. Wajahnya tampak kebingungan. “Terus terang, saya merasa kuatir.Hwang Tiffany kenalan lama saya.”
“Oh ya? Kalau tidak salah, dia itu perempuan muda yang rambutnya kehitam-hitaman tadi, kan?”
“Benar.Tiffany namanya. Dia sangat mengagumkan, Dokter Taecyon. Saya kenal dia sebelum dia menikah. Ketika itu dia masih menjadi siswa calon perawat di rumah sakit. Kemudian dia pergi berlibur ke tempat keluarga Kim, dan menikah dengan Taeyeon”
“Ya?”Nickhun sekali lagi meneguk Soju sodanya. Lalu ia meneruskan. “Akan saya ceritakan sedikit riwayat keluarga Kim.
Dokter Taecyon.” “Ya? Oh, saya akan senang sekali mendengarnya.”

“Begini. Tuan Kim almarhum adalah tokoh yang cukup terkenal. Orangnya menarik dan menyenangkan. Dia menikah dua kali. Istri pertamanya meninggal ketika Boa dan Yuri masih kecil. Mrs.Kim yang kedua, katanya, sangat cantik pada waktu dinikahi Tuan Kim. Memang dia sudah tidak terlalu muda. Kalau melihat rupanya sekarang, rasanya sukar sekali membayangkan dia pernah cantik. Tapi, orang mengatakan, dia betul-betul cantik dulunya.

Pendeknya, suaminya sangat menyayangi dan selalu menuruti segala yang diputuskannya. Tuan Kim cacat sejak beberapa tahun menjelang kematiannya. Disamping itu, istrinya memang cekatan dan pandai mengurus segala sesuatu. Orangnya sangat berhati-hati dalam segala hal. Sepeninggal Tuan Kim dia membaktikan diri sepenuhnya kepada anak-anak itu. Dia sendiri mendapat seorang anak dari Tuan Kim – Seohyun.Seohyun sangat cantik, tetapi tubuhnya agak lemah. Yah, Mrs.Kim sejak itu memusatkan perhatiannya hanya kepada anak-anaknya. Dia memutuskan sama sekali hubungannya dengan dunia luar. Saya tidak tahu bagaimana pendapat Anda, Dokter Taecyon, tapi pada hemat saya cara begitu kurang baik.”

“Saya setuju dengan Anda. Itu sangat jelek pengaruhnya terhadap perkembangan mental anak-anak.”
“Tepat sekali. Mrs.Kim mengurung mereka semua di rumah, dan tak pernah sekali pun mengizinkan mereka berteman atau berhubungan dengan orang lain. Akibatnya, mereka jadi tidak tahu cara bergaul. Mereka menjadi canggung, penggugup… Anda tahu maksud saya, kan? Mereka jadi tidak bisa hidup bermasyarakat. Dan menurut saya, itu jelek sekali.”
“Sangat jelek.”
“Saya tahu maksud Mrs. Kim baik. Cuma caranya itu yang berlebih-lebihan.” “Mereka tinggal serumah?”
“Ya.”
“Anak lelakinya tidak ada yang bekerja?”
“Oh, tidak.Tuan Kim orang kaya – semua kekayaannya diwariskan kepada istrinya, dengan syarat harus dipergunakan untuk menghidupi anak-anaknya.” “Jadi, anak-anak itu tergantung sepenuhnya pada ibu mereka dalam hal keuangan?”
“Begitulah. Dan Mrs.Kim bersikeras agar mereka semua tetap tinggal di rumah. Mereka tidak diizinkan pergi ke luar rumah, apalagi cari pekerjaan. Yah, mungkin kebijaksanaannya itu beralasan. Uang mereka toh sudah banyak. Buat apa lagi mereka mesti kerja. Meskipun begitu, menurut saya, bekerja – untuk laki-laki – merupakan vitamin. Bukan cuma itu. Mereka sama sekali tidak punya hobi. Tak pernah main golf, tak pernah dansa. Pendeknya, tak pernah melakukan kegiatan yang umumnya dilakukan orang-orang muda. Mereka cuma berdiam diri di rumah. Rumahnya memang besar, tapi letaknya jauh dari mana-mana. Oh, terus terang, Dokter Taecyon, saya pikir semuanya ini tidak benar.”

“Saya setuju dengan Anda,” ujar Dokter Taecyon.
“Tidak seorang pun di antara mereka punya jiwa sosial. Bisa dibilang, mereka itu tidak punya semangat kemasyarakatan sama sekali! Memang mereka sendiri rukun; tapi… yah, masa berhubungan antara mereka-mereka saja?”
“Pernahkah salah satu mencoba melepaskan diri dari
keluarga?”
“Itu belum pernah saya dengar. Kerja mereka seha-ri-harian duduk berkumpul bersama-sama.”
“Siapa yang Anda salahkan dalam hal ini – anak-anak itu atau ibunya?”

Nickhun beringsut tak enak. “Yah, saya pikir Mrs.Kim-lah yang bertanggung jawab. Caranya membesarkan anak-anak itu salah. Meskipun begitu, setelah dewasa, setiap anak harusnya bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Seharusnyalah dia memilih untuk berdikari.”
“Mungkin itu tidak bisa mereka lakukan,”
ujar Taecyon serius. “Kenapa tidak?”
“Oh, banyak cara,Nickhun. untuk menghambat pertumbuhan sebatang pohon, misalnya.”
Nickhun terbelalak. “Mereka semua sehat, kok. ”
“Perkembangan pikiran pun bisa dihambat seperti halnya pertumbuhan fisik.” “Ah, tapi mereka cerdas.”
Taecyon menarik napas panjang.
“Percayalah, Dokter Taecyon” lanjut Nickhun “Setiap orang bisa menentukan sendiri arah hidupnya. Orang yang menghargai dirinya sendiri pasti mau memperjuangkan nasibnya dan memanfaatkan hidupnya – bukan cuma duduk berpangku tangan. Lelaki yang kerjanya cuma duduk berpangku tangan tak pantas dihargai perempuan.”

Taecyon memerhatikan Nickhun dengan penuh tanda tanya. “Maksud Anda, Kim Taeyeon?”
“Yah, begitulah. Memang Taeyeonlah yang saya pikirkan. Yuri masih muda. Tapi Taeyeon? Dia sudah tiga puluh tahun. Sudah waktunya dia membuktikan siapa sebenarnya dirinya.”
“Kehidupan pasti sulit buat istrinya.”
“Tentu saja. Sangat sulit! Padahal Tiffany begitu baik. Saya sangat mengaguminya. Dia sama sekali tidak pernah mengeluh. Tapi dia tidak bahagia, Dokter Taecyon Dia sama sekali tidak bahagia.”
Taecyon menganguk. “Ya, saya pikir begitu.”
“Saya tidak tahu bagaimana pendapat Anda, Dokter Taecyon, tapi menurut saya perempuan harusnya tahu sampai di mana dia harus berkorban! Kalau saya jadi Tiffany saya akan lemparkan masalahnya kepada Taeyeon.Taeyeon mesti bekerja atau….”

“Atau Tiffany meninggalkannya. Begitu?”
“Hidupnya adalah miliknya, Dokter Taecyon Kalau Taeyeon tidak bisa menghargainya sebagaimana seharusnya, yah… di dunia ini toh masih banyak lelaki lain, bukan?”
“Anda, misalnya?”
Wajah lelaki Korea itu merah padam. Kemudian dipandangnya lawan bicaranya dengan penuh rasa harga diri. “Benar,” ujarnya. “Saya tidak malu mengakui perasaan saya terhadap Tiffany.Saya menghormati Tiffany dan sangat dekat dengannya. Saya cuma menginginkan kebahagiaan buatnya. Kalau saja dia bahagia bersama Taeyeon saya rela mundur dan membiarkannya bersama Taeyeon”
“Tapi?
“Yah – saya siap siaga. Kalau Tiffany sewaktu-waktu membutuhkan saya, saya ingin ada di dekatnya.”

“Anda benar-benar ksatria sejati,Nickhun.”
“Apa?”
“Maksud saya, keksatriaan semacam itu mungkin cuma hidup dalam bangsa Korea sekarang ini! Anda sudah senang bisa membaktikan diri kepada wanita pujaan Anda tanpa mengharapkan balasan apa pun dari pihaknya! Betul-betul mengagumkan! Apa yang sebenarnya bisa Anda perbuat untuknya?”
“Yah – berada di dekatnya bila dia memerlukan saya.
“Kalau saya boleh bertanya, bagaimana sikap Mrs.Kim terhadap Anda?”

Perlahan Nickhun berkata, “Saya tidak pernah merasa pasti akan sikapnya. Seperti saya katakan tadi, Mrs..Kim tidak suka bergaul dengan orang lain. Tapi terhadap saya, dia lain; selalu sopan, dan caranya memperlakukan saya seperti saya ini keluarganya sendiri.”
“Jadi, dia merestui hubungan Anda dengan Tiffany?”
“Ya.”
Dokter Taecyon mengangkat bahu. “Aneh.”
“Percayalah, Dokter Taeyeon,” sahut Nickhun kaku, “hubungan saya dengan Tiffany bukan hubungan yang tidak terhormat. Kami ` bersahabat.”

“Oh, itu tidak saya ragukan. Cuma saja, sikap Mrs.Kim yang seolah merestui hubungan Anda dengan menantunya itu sangat mengherankan saya. Tahukah Anda,Nickhun, saya sangat tertarik pada kasus Mrs. Kim ini.”
“Dia memang wanita yang luar biasa. Kuat, kepribadiannya mencolok.Tuan Kim sangat percaya  kebijaksanaan istrinya.”
“Ya, begitu percaya sampai dia merasa aman me-ninggalkan anak-anaknya tergantung sepenuhnya pada istrinya. Di negara saya,Nickhun, hal seperti itu tidak dibenarkan oleh hukum.”
Mr. Nickhun bangkit. “Di Korea” katanya, “orang bebas menentukan keinginan hatinya.”
Dokter  Taecyon juga bangkit. Ia sama sekali tidak terkesan oleh komentar Nickhun. Dokter Taecyon tahu benar bahwa di dunia ini tidak ada suatu bangsa, negara, atau individu sekalipun yang bisa dikatakan bebas. Tapi ia tahu juga bahwa batasan ada berbagai-bagai tingkatannya.

———–

Malam itu Jessica pergi  dengan pikiran masih dipenuhi pikiran tentang masjid yang berdiri megah memesona. Dalam hatinya timbul pertanyaan, mungkinkan tempat Allah akan menjadi seindah ini tanpa mesjid itu? Jessica mendengar bunyi langkah kaki rombongan lain, dan tak lama kemudian tampaklah rombongan itu keluar dari dalam mesjid.

Ternyata mereka keluarga Kim, ditemani oleh seorang pemandu wisata  yang lincah. Mrs.Kim dituntun oleh Yuri dan Taeyeon. Tiffany dan Nickhun berjalan agak di belakang mereka, sedangkan Boa sendirian di deretan paling belakang. Sementara mereka berjalan, tak sengaja Boa melihat Jessica. Sejenak ia tampak ragu. Lalu tiba-tiba ia berbalik dan lari menyeberang pelataran yang memisahkan mereka.
“Maaf,” ujarnya terengah-engah. “Aku… aku merasa perlu menerangkan sesuatu kepadamu.”
“Ya?” sahut Jessica.
Tubuh Boa gemetar. Wajahnya pucat. “Ini mengenai kakakku. Waktu kau menyapanya kemarin, pasti kaupikir dia tidak tahu aturan. Itu bukan maksudnya. Tapi, tapi… dia tidak bisa berbuat lain. Oh, percayalah padaku.”

Jessica merasa geli. Gengsi dan seleranya serata dijatuhkan. Mengapa gadis aneh ini mesti berlari-lari menghampirinya dan minta maaf buat kakaknya yang sombong? Komentar spontannya sudah berada di ujung lidah. Namun segera Jessica mengubah pikirannya. Gadis yang berdiri di hadapannya ini sungguh-sungguh tulus. Sesuatu dalam diri Jessica menyuruhnya bertindak sebagai dokter, mencari apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh gadis yang ketakutan ini.

“Coba ceritakan,” ujarnya ramah.
“Dia mengobrol denganmu di kereta api, kan?” tanya Boa .
Jessica  mengangguk. “Ya, aku mengajaknya bercakap-cakap.”
“Oh, itu sudah pasti. Tidak mungkin sebaliknya. Tapi kemarin itu Yuri takut…” Mendadak Boa berhenti.

“Takut?”
Wajah Boa yang pucat mendadak kemerah-merahan.“Oh, aku tahu semua ini kedengaran janggal – gila.Eomma – dia kurang sehat – dan tidak suka kalau kami bergaul dengan orang lain. Tapi aku tahu Yuri- Yuri ingin berteman denganmu.” Hati Jesica tertarik mendengarnya. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu,Boa sudah menyambung.

“Aku tahu, yang kuceritakan ini kedengarannya aneh, tapi… oh, kami ini memang bukan keluarga normal.”Boa memandang berkeliling seperti ketakutan. “Aku harus pergi,” bisiknya, “nanti ketahuan aku mengobrol denganmu.”

Jessica berkata tegas. “Apa salahnya – kalau kau memang ingin mengobrol denganku? Kita bisa mengobrol sambil berjalan peerlahan-lahan.”
“Oh, jangan.” Boa mundur. “Aku dilarang mengobrol dengan orang lain.”
“Apa salahnya, sih?” tanya Jessica.
“Sungguh aku tidak boleh.Eomma nanti…”
“Memang,” ujar Jessica tenang, “kadang-kadang orangtua tidak sadar anaknya sudah besar. Mereka menganggap anaknya masih kecil dan perlu diatur. Tapi, bukan berarti si anak harus terus-terusan mengalah. Orang harus bisa memperjuangkan hak-hak pribadinya.”

Boa bergumam, “Kau tidak mengerti – kau sama sekali tidak mengerti…,” sambil mempermainkan jari-jari tangannya dengan gelisah.
“Memang orang sering mengalah untuk menghindari percekcokan. Percekcokan memang tidak menyenangkan. Tapi tidak ada ruginya bila cekcok itu demi memperjuangkan kebebasan.”
“Kebebasan?” tanya Boa “Kami tidak pernah bebas, dan tidak akan pernah bebas.”
“Omong kosong!” cetus Jessica.
Boa mendekat. Disentuhnya lengan Jessica. “Dengar! Akan kujelaskan semuanya supaya kau mengerti. Sebelum menikah, eomma – dia itu sebetulnya ibu tiriku – bekerja di penjara sebagai sipir. Ayahku gubernur. Setelah menikah dengan Appa.Eomma meneruskan sikapnya sebagai sipir terhadap kami. Itu sebabnya hidup kami serasa dalam penjara!” Sekali lagi ia memandang ke sekelilingnya dengan ketakutan. “Keburu mereka tahu. Oh, aku harus cepat-cepat bergabung dengan mereka lagi.”

Jessica menahan gadis itu waktu ia hendak lari meninggalkannya. “Sebentar, kita mesti ketemu dan ngobrol lagi.”
“Tidak mungkin. Aku tak akan bisa.”
“Ah, pasti bisa,” ujar Jessica pasti. “Datanglah ke kamarku setelah kau pamit tidur malam nanti. Kamarku No. 349.” Jessica melepaskan pegangannya. Boa segera melompat dan berlari-lari kembali ke lingkungan keluarganya.

Jessica diam memandang kepergian gadis itu.Ketika tersadar dari lamunannya yang melayang jauh mengikuti kepergian Boa, didapatinya Dokter Taecyon berada di sampingnya.

“Selamat pagi, Miss Jung. Baru mengobrol dengan Kim Boa?”
“Ya. Begini ceritanya,” Jessica mengulangi obrolannya dengan Boa.
Pada suatu ketika Taecyon menyela, “Oh, jadi dia itu bekas sipir penjara? Hmm, mungkin itulah jawabannya.”
“Maksudmu, itu sebabnya dia menjadi seperti tiran? Apakah itu kebiasaannya sewaktu menjadi sipir?”
Taecyon menggeleng. “Bukan begitu. Kelihatannya, ada semacam dorongan kuat. Sifat tiraninya itu bukan timbul karena profesinya sebagai sipir. Tetapi sebaliknya. Dia menjadi sipir karena dia menyukai ketiranian itu sendiri. Menurut teoriku, nafsunya untuk menguasai orang lainlah yang mendorongnya memilih profesi itu.” Wajah Taecyon tampak keruh. “Banyak hal yang pada diri seseorang itu laten sifatnya. Setiap orang pada dasarnya mempunyai keinginan berkuasa, berbuat jahat, dan sebagainya. Cuma saja, keinginan-keinginan itu terpendam. Sering kali, malah keinginan tersebut tidak disadari adanya. Tapi itu memang sifat manusia yang menurun, Miss Jung. Kita menutup mata dan menyangkal adanya nafsu macam begitu pada diri kita. Tapi ada kalanya nafsu itu begitu kuat…”

Jessica bergidik. “Aku tahu.”
“Semua itu bisa kita lihat di sekitar kita dari hari ke hari – dalam dunia politik, dalam tingkah laku bangsa-bangsa.Reaksi dari rasa kemanusiaan, iba, persaudaraan. Ajarannya sering terdengar bagus. Misalnya, ajaran rezim yang bijaksana, pemerintahan yang adil, dan sebagainya. Tapi, bila ditinjau latar belakangnya, sama saja: kejahatan, rasa takut. Bila dibebaskan, manusia akan mudah sekali menunjukkan sifat-sifat aslinya: senang berbuat jahat demi kepentingan pribadinya! Manusia tidak lain adalah hewan yang seimbang. Dia mempunyai satu kebutuhan utama; bertahan – mempertahankan diri. Terlalu agresif sama fatalnya dengan diam. Dia harus mempertahankan diri! Untuk itu dia perlu menggunakan sedikit kejahatan, kecurangan, tapi dia tidak boleh mendewakan kejahatan itu sendiri!”

Mereka terdiam. Kemudian ucap Jessica, “Menurutmu, apakah Mrs. Kim termasuk orang sadis?”
“Aku hampir yakin begitu. Kupikir dia senang melihat orang lain menderita – bukan menderita jasmani, melainkan jiwanya! Kasus semacam ini lebih jarang terjadi dan lebih sulit diatasi. Dia senang menguasai dan membuat orang lain menderita.”
“Keterlaluan,” ujar Jessica.
Dokter Taecyon kemudian menceritakan percakapannya dengan Nickhun.
“Dia tak sadar apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga itu?” tanya  Jessica.
“Mana mungkin dia tahu? Kan dia bukan psikolog?”
“Memang bukan. Dan lagi, pikirannya mungkin tidak sebusuk pikiran kita!” “Tepat! Dia berpikiran manis, lurus, dan sentimental seperti kebanyakan orang Korea. Dia percaya segala sesuatu itu baik, bukannya jelek. Dia tahu suasana dalam keluarga Kim tidak wajar, tapi toh dia masih menganggap itu disebabkan oleh terlalu sayangnya Mrs.Kim kepada anak-anaknya. Sedikit pun tak terpikir olehnya bahwa Mrs.Kim menyalahgunakan kekuasaannya sebagai ibu.”

“Ya, dan itu menyenangkan hati Mrs.Kim!” cetus Jessica.
“Kupikir juga begitu!” Habis kesabarannya,
Jessica berkata, “Tapi kenapa mereka tidak minggat saja? Mereka bisa, kalau mau.”
Taecyon menggeleng. “Kau salah. Mereka tidak bisa minggat. Pernah melakukan eksperimen dengan ayam jago? Coba tarik garis kapur di tanah, dan suruh seekor ayam jago mematuk garis itu. Dia akan merasa dirinya diikat di situ. Mengangkat kembali kepalanya pun dia tidak bisa. Begitu pula halnya anak-anak malang keluarga Kim itu. Si ibu bekerja keras buat mereka sejak mereka masih kecil-kecil. Dominasi si ibu sudah merasuk ke dalam jiwa mereka. Si ibu seolah menghipnotis mereka, memaksa mereka untuk tidak dapat tidak menuruti perintahnya. Kebanyakan orang akan mengatakan mustahil – tapi kau dan aku setidaknya tahu lebih banyak. Si ibu telah membuat anak-anaknya merasa mutlak tergantung kepadanya. Sudah terlalu lama mereka mengeram dalam penjara, sampai-sampai bila pintu penjara itu terbuka pun, mereka tidak akan ambil peduli! Paling tidak, ada seorang di antara mereka yang sudah tidak ingin bebas lagi! Lama-lama, mereka semuanya akan begitu – takut menghadapi kebebasan!”

“Lalu bagaimana kalau Mrs.Kim mati?” tanya Jessica logis.
Taecyon mengangkat bahu. “Tergantung kapan matinya. Kalau sekarang – yah, mungkin belum terlalu terlambat.Yuri dan Boa masih muda. Mereka masih bisa menjadi manusia normal. Taeyeon. kelihatannya dia sudah terlalu jauh terpengaruh. Dia sudah seperti orang yang tak punya harapan – sikapnya pasrah begitu saja.”

Lagi-lagi Jessica merasa tidak sabar. “Mestinya istrinya berbuat sesuatu. Dia harus menolong suaminya!”
“Siapa tahu dia sudah mencoba – tapi gagal.”
“Bagaimana pendapatmu mengenai istri Taeyeon? Apakah dia juga dikuasai oleh ibu mertuanya?”
Taecyon menggeleng. “Tidak. Kupikir Mrs.Kim tidak bisa menguasai istri Taeyeon. Itulah sebabnya diam-diam dia sangat membenci menantunya. Lihat saja cara Mrs.Kim melihatnya.”

Dahi Jessica berkerut. “Aku tidak mengerti – apakah istri Taeyeon tidak tahu yang sebenarnya terjadi dalam keluarga suaminya?”
“Kupikir tahu.”
“Hmmm,” ujar Jessica. “Satu-satunya jalan, si ibu mesti disingkirkan! Caranya gampang. Masukkan saja sedikit arsenik dalam tehnya.” Lalu tambahnya mendadak, “Lalu, bagaimana pendapatmu mengenai si kecil – maksudku, gadis berambut merah itu?”
Dahi Taecyon ganti berkerut. “Aku tidak tahu. Anak itu aneh sekali. Katanya, Kim Seohyun itu anak kandung Mrs.Kim.”

“Ya. Mungkinkah karena Seohyun itu anaknya sendiri lalu sikap Mrs.Kim jadi lain terhadapnya?”
Perlahan Taecyon berkata, “Kupikir, orang seperti Mrs.Kimntidak akan peduli lagi siapa korbannya. Dia tidak peduli apakah itu orang yang paling disayanginya sekalipun.” Sebentar Taecyon diam.

Lalu katanya, “Kau orang Kristen?”
Perlahan Jessica menjawab, “Aku sendiri tak tahu. Aku belum pernah menganggap diriku beragama apa pun. Tapi sekarang ini… oh, aku jadi bimbang. Aku merasa… aku merasa kalau aku bisa melihat gedung-gedung ini, semua sekte, dan percekcokan sengit di antara gereja Kristen sendiri – mungkin aku bisa menyaksikan tubuh Kristus yang damai duduk di atas keledai menuju Gereja myongdong, dan menaruh kepercayaan pada-Nya.”

Taecyon berkata dengan suara dalam, “Paling tidak, aku sendiri percaya pada salah satu ajaran Kristus, Kebahagiaan ada dalam kesederhanaan! Aku Dokter. Aku tahu betul bagaimana ambisi – untuk meraih keberhasilan, untuk memperoleh kekuasaan – bisa menyebabkan penyakit pada jiwa manusia. Kalau ambisi itu terpenuhi, manusianya menjadi sombong, kasar, dan ingin lebih puas lagi. Bila tidak terwujud – oh! Bila ambisi seseorang tidak pernah terwujud, cuma rumah sakit jiwalah yang bisa memberi predikat kepadanya! Rumah sakit jiwa itu isinya orang-orang yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya cuma tergolong kaum yang cukupan saja, atau bahkan yang kekurangan; karenanya, mereka lalu menciptakan jalan buat melarikan diri dari kenyataan, dan menutup diri terhadap hidup untuk selama-lamanya!”

Tiba-tiba Jessica menyeletuk, “Sayang. Coba Mrs.Kim dimasukkan ke rumah sakit jiwa.”
Taecyon menggeleng. “Tempatnya bukan di situ. Yang di situ cuma mereka yang gagal. Mrs. Kim lebih gawat lagi! Dia termasuk yang berhasil! Impiannya sudah terwujud!”

Tbc

Advertisements

5 thoughts on “APPOINTMENT WITH DEATH 02

  1. What… Ya ampun keren banget sumpah.. gw sebel ndiri liat mrs.kim.. gw dapet feel nya banget 👍👍👍👏👏 semangat trus thoorrr

    Like

  2. wahhh gw udah mengerti sma jln critanya keren keren
    iihh gw pen re.es tuh si mrs. kim biar kyak bregedel sebel gw sma dia..

    Like

  3. Kok tega banget sih eommanya…moga” si Taeyeon bisa berubah dan bisa ngebahagia’in tiffany…kasian si tiff u,u kok taeny belum punya anak yah?’-‘ kan udh nikah juga? Lanjut Thor!!bagus ceritanya haha 👍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s