Santai Bro

Falsafah–Pandangan Hidup–, Agama, dan lainnya memang bukan hanya untuk diletakkan di hati, tapi juga harus berada di tangan dan kaki kita.Tulisan ini jelas bukan tulisan pertama yang mencoba menguak kunci keberhasilan Korea, khususnya Korea Selatan,saat ini. Banyak tulisan yang sudah mencoba menulis tentangkeberhasilan Korea dan kuncinya, seperti dalam buku KOREA: From Rags to Riches editan Eung-kyuk Park dan Chang-seok Park, atau buku Why Samsung karangan Go Seung Hee. Buku pertama mencoba merupakan bunga rampai dari banyak penulis yang ingin menggambarkan kesuksesan Korea, mulai dari keterpurukan mereka hingga masa kejayaan Korea saat ini. Sementara buku Why Samsung mengungkapkan kesuksesan Samsung yang tentu saja merupakan kesuksesan Korea.

Pertanyaan sederhana dari tulisan ini adalah, kenapa Korea bisa sukses? Banyak yang bilang orang Korea tekun bekerja, saling bekerja sama, dan sebagainya. Namun jika ditelisik lebih jauh, ada hal mendasar yang membuat kita mengerti kenapa Korea sekarang seperti ini, yaitu Filsafat Korea.

Meskipun perkembangannya tidak semaju kebudayaan Korea,studi Filsafat Korea mulai dirilik oleh banyak ilmuwan. Selain untuk mengetahui karakter bangsa Korea, mempelajari Filsafat Korea juga akan membuka mata kita kenapa Korea bisa maju sekarang ini.Secara singkat, filsafat Korea bisa dirangkum dalam tiga kata, Praktis, Naturalistis, Pragmatis. Filsafat Korea mulai tumbuh dan berkembang sejak 4000 tahun yang lalu, di mana saat itu pertama kalinya mereka bersentuhan dengan bangsa China. Filsafat Korea tidak bisa dibilang asli Korea karena sangat banyak mendapatkan pengaruh dari filsafat lain, terutama China. Namun, di sinilah keahlian orang Korea, filsafat China yang mereka dapatkan, seperti Konfusianisme atau Taoisme mereka ramu sesuai dengan ‘rasa’ mereka sehingga menjadi sesuatu yang khas.Empat musim yang dimiliki Korea membuat alam Korea memiliki karakter sejuk dan berwarna warni sehingga indah untuk dilihat.

Kondisi tenang inilah—khususnya musim semi dan musim gugur—yang membuat orang Korea betah duduk berjam-jam untuk berpikir filosofis. Pemikiran orang Korea sangat tergantung dengan alam, hal ini dibuktikan dengan puisi-puisi yang tidak pernah melupakan unsur alam di dalamnya, maupun peribahasa yang sangat banyak berisi tentang alam. Pemikiran naturalistis ini sekaligus menunjukkan bahwa orang Korea tidak suka dengan sesuatu yang bersifat abstrak. Alam dapat dilihat dan bersifat realistis.Dalam prinsip ketuhanan yang dijelaskan dalam Samguk Yusa (Kisah Tiga Kerajaan), di mana Hwanung turun ke bumi untuk mengurus manusia, orang Korea perlu merealisasikan tuhan yang mereka sembah. Hwanung turun ke bumi dan menikahi beruang yang menjelma menjadi manusia, kemudianmelahirkan Dangun (Bapak Orang Korea).
Dangun inilah yang kemudian hampir dianggap sebagai Tuhan bagi bangsa Korea. Orang Korea tidak bisa memahami sesuatu yang bersifat abstrak, sehingga Tuhan juga butuh direalisasikan. Mungkin ini juga alasan kenapa Islam sulit diterima di sana, karena konsepsi Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang abstrak, tidak berbentuk dan realis.Selain naturalis, talenta dan kreativitas orang Korea juga membuahkan filsafat Korea yang merupakan harmonisasi darifilsafat Korea asli dengan pemikiran asing seperti Buddhisme dari India, dan Konfusianisme dari China.

Sebagai contoh, Buddhisme yang berkembang di Korea berbeda dengan agama Buddha yang ada di Indonesia. Pendeta-pendeta Buddha di Korea hidupnya tidak terkungkung dalam kuil dan hanya berdoa. Pendeta Buddha di Korea ke luar ke kehidupan perkotaan, berinteraksi dengan masyarakat dan mengajak masyarakat untuk kembali ke jalan yang benar. Tidak heran jika banyak pendeta di Korea yang kehidupannya lumayan ‘borjuis’.Salah satu sistem filsafat Korea yang mungkin bisa dibilang sebagai kunci keberhasilan orang Korea saat ini adalah filsafat Han. Bahm (1995) dalam artikelnya berjudul “Korean Philosophies” memperkenalkan secara gamblang arti Han sebagai sebuah sikap yang secara kultural meresap ke dalam diri setiap orang Korea.

Filsafat Han ini memiliki dimensi relativitas, kerjasama, harmoni, dan penyatuan. Syamsuddin menjelaskan dalam artikelnya berjudul “Dimensi-Dimensi Filosofis Bahasa Korea” keempat dimensi di atas adalah dimensi yang terkandung dalam bahasa Korea, namun menurut hemat penulis, keempat dimensi itu adalah dimensi yang juga terkandung dalam filsafat Korea, yaitu Han.Dimensi relativitas menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakat seseorang sangat tergantung dengan yang lainnya. Seorang laki-laki akan tergantung dengan kehadiran seorang wanita, meskipun kedua memiliki karakter yang sangat berbeda. Dimensi ini boleh dikatakan adalah dimensi sosial manusia, di mana manusia adalah makhluk sosial yangtidak bisa sendiri. Manusia akan tergantung dengan dimensi alam yang lain, meskipun berbeda karakter dan sifat. Berbeda di sini tentu saja tidak berarti bertentangan.
Relativitas ini yang membuat manusia akanmenekan egonya ketika hidup bersama dengan orang lain.Dimensi relativitas ini akan menimbulkan dimensi lain yaitu dimensi kerjasama. Ketergantungan seseorang dengan yang lain akan membuat manusia bekerja sama untuk bertahan hidup. Filsafat Han memandang relasi individual sebagai yangterikat oleh kesauan total dalam membangun kehidupan manusia.
Akar spirit kerjasama ini tumbuh dari lingkungan pertanian di mana orang harus bahu membahu untuk bercocok tanam.Sampai saat ini, orang Korea benar-benar masih menerapkan prinsip kerjasama. Ketika Korea terkena dampak dari krisis IMF tahun 1997, pemerintah menghimbau masyarakat untuk mengumpulkan emas yang mereka miliki untuk mengatasi utang negara. Akhirnya, sebagian dari emas yang terkumpul itu bisa digunakan untuk membayar hutang dan memulihkan kondisi ekonomi. Masyarakat Korea sadar bahwa negara ini harus dibangun dengan bekerja sama. Bahkan orang Korea tidak pernah menyebut Korea sebagai ‘negaraku’, tapi selalu ‘negara kami’.Dimensi harmoni menggambarkan kehidupan yang penuh dengan keragaman dan terpadu. Meskipun keragaan dan perbedaan itu tajam, masyarakat Korea justru menemukan corak khasnya sebagai kehidupan yang sarat makna.
Mereka belajar untuk mengharmonisasikan unsur-unsur yang berbeda menjadi satu kesatuan yang terjalin indah. Musik dantari tradisional Korea termasuk bidang seni yang paling dekat dengan harmoni. Menggabungkan musik dan tari sehingga bisa berpadu dan indah untuk dipandang.Ketika harmonisasi ini telah berjalan maka tidak mustahil penyatuan itu terjadi. Penyatuan dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan hal-hal yang bertentangan. Meskipun masyarakat Korea tidak seberagam masyarakat Indonesia. Namun orang Korea berhasil menyatukan diri mereka dan menempatkan posisi mereka ke derajat yang lebih tinggi.

Misalnya, secara karakter orang Korea dari provinsi A akan berbeda dengan yang berasal dari provinsi B. Ketika penyatuan itu hanya dipahami dari satu sisi, maka harus ada yang mengalah agar mereka seragam. Namun penyatuan di sini berarti menyatukan berbagai warna itu sehingga menghasilkan kesatuan yang indah.Dimensi-dimensi filsafat Han ini masih bisa dirasakan sampai sekarang, meskipun arus modernitas juga sampai ke Korea. Korea sangat modern, namun mereka masih tetap menjaga nilai-nilai tradisional dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bangunan modern dipadukan dengan bangunan tradisional, musik modern dipadukan dengan musik tradisional, nilai-nilai kerjasama pun masih diterapkan meskipun bentuk sudah berbeda.Sadar tidak sadar, dimensi-dimensi yang terkandung dalam Han inilah yang membuat orang Korea bisa seperti ini.

Merekabberbeda namun mencoba mengharmonisasikan perbedaan-perbedaan itu. Mereka sadar bahwa manusia saling bergantung sehingga prinsip kerjasama harus diterapkan. Meskipun ini prinsip universal di mana kita—orang Indonesia—pun mengetahuinya, namun orang Korea benar-benar menjalankan prinsip ini. Jika boleh dibilang, filsafat di Korea itu seperti kaki, digerakkan dan dijalankan. Sementara filsafat di China diletakkan di kepala, dan filsafat di Jepang diletakkandi hati saja.

Di sinilah kita belajar bahwa prinsip-prinsip hidup, bukan hanya untuk dipahami namun juga dijalankan. Indonesia, boleh dikatakan belum bisa menemukan filsafatnya. Ketika ditanya apa pandangan hidup—filsafat—bangsa Indonesia, mungkin kita akan menjawab Pancasila. Tapi kenyataannya, Pancasila masih kita letakkan di kepala kita, masih kita anggap sebagai landasan negara, bukan landasan hidup kita. Indonesia masih kekurangan wacana untuk memandang kehidupannya sendiri, sehingga tak heran negara ini masih tertidur pulas.Comments

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s